Ada hal-hal di luar kendali yang tak bisa kamu ubah, sekuat apa pun kamu melawan, sekeras apa pun kamu menolak. Sekali pun berlutut dan memohon, takdir dan waktu tak pernah peduli bagaimana perasaanmu dan apa peran yang sedang kamu jalani. Jika takdir telah ditetapkan, yang terjadi, terjadilah. Dan bila waktu telah ditentukan, kamu tak bisa memajukannnya barang sedikit pun dan tak pula memundurkannya barang sedetik pun.
Yang kamu perlukan—barangkali—hanyalah mengambil jeda sementara waktu, untuk memastikan luka yang kamu alami benar-benar kering. Setelah kesedihan yang bertubi-tubi, setelah sebuah kabar memilukan yang meruntuhkan ketegaranmu, mengambil jeda adalah pilihan terbaik.
Dengan jeda, biarkan luka dan kesedihan itu mengering dan menutup sepenuhnya. Sebab, jika luka itu tetap dibiarkan terbuka, sedang kamu tak berhenti, ia akan terkena tetes air matamu yang kamu deraskan di setiap malammu, yang justru membuatmu semakin perih, bertambah pedih. Atau, kamu akan terus berlari sampai tangismu kering kehilangan air matanya sendiri?
Bukankah seindah dan sedalam apa pun kata-kata, tak akan bermakna jika ia tak berspasi? Bisakah ia dimengerti jika tidak ada jeda? (Tentuakansangatsulitmemahamiinijikatakadajedamakakumohonberhentilahjanganterlalukeraspadadirimusendiri)
Mari, kita bercerita lagi, tentang mimpi yang sempat terhenti, tentang canda yang sempat terjeda, tentang doa-doa yang hampir hilang percayanya. Tapi nanti, saat kamu telah selesai dari jedamu. Untuk sekarang, kuserahkan waktu sepenuhnya untukmu dan membiarkanmu bebas dalam ruang sendirimu. Aku tak akan mengganggu.
Setuju?
@apostrof.id / t.me/apostrofid
Yang kamu perlukan—barangkali—hanyalah mengambil jeda sementara waktu, untuk memastikan luka yang kamu alami benar-benar kering. Setelah kesedihan yang bertubi-tubi, setelah sebuah kabar memilukan yang meruntuhkan ketegaranmu, mengambil jeda adalah pilihan terbaik.
Dengan jeda, biarkan luka dan kesedihan itu mengering dan menutup sepenuhnya. Sebab, jika luka itu tetap dibiarkan terbuka, sedang kamu tak berhenti, ia akan terkena tetes air matamu yang kamu deraskan di setiap malammu, yang justru membuatmu semakin perih, bertambah pedih. Atau, kamu akan terus berlari sampai tangismu kering kehilangan air matanya sendiri?
Bukankah seindah dan sedalam apa pun kata-kata, tak akan bermakna jika ia tak berspasi? Bisakah ia dimengerti jika tidak ada jeda? (Tentuakansangatsulitmemahamiinijikatakadajedamakakumohonberhentilahjanganterlalukeraspadadirimusendiri)
Mari, kita bercerita lagi, tentang mimpi yang sempat terhenti, tentang canda yang sempat terjeda, tentang doa-doa yang hampir hilang percayanya. Tapi nanti, saat kamu telah selesai dari jedamu. Untuk sekarang, kuserahkan waktu sepenuhnya untukmu dan membiarkanmu bebas dalam ruang sendirimu. Aku tak akan mengganggu.
Setuju?
@apostrof.id / t.me/apostrofid