Bagaimana cara mengukur kewarasan ketika cinta telah mengambil alih seluruh kendali atas detak jantung?
Di bawah bentangan langit Najd yang pepat oleh debu, nama Qais tidak lagi diteriakkan sebagai seorang pemuda terhormat dari bani Amir. Ia telah kehilangan namanya. Penduduk gurun, dengan separuh iba dan separuh cemooh, memanggilnya dengan satu nama baru: Majnun—lelaki yang jiwanya terenggut, yang akalnya melesat terbang meninggalkan raga demi satu poros hidup bernama Laila.
Namun, jarang ada yang mafhum bahwa di balik jeruji kesunyian Majnun, Laila sesungguhnya mengubur debar yang sama parahnya. Mereka adalah dua cermin yang saling memantulkan luka, terpisah oleh sekat adat, namun bertaut rapat dalam frekuensi kerinduan yang paripurna.
Alkisah, pada suatu petang yang riuh, sebuah perayaan digelar di pelataran rumah Laila. Aroma daging panggang dan rempah kapulaga menguar bebas, memanggil seluruh kabilah untuk merayakan kehangatan pesta. Semua orang diundang, dari pemuka adat hingga pengembara papa yang kebetulan lewat. Semua orang, kecuali satu: Qais si Lelaki Gila.
Bagi keluarga Laila, menghadirkan Majnun di tengah perjamuan terhormat sama saja dengan mengundang aib yang menari-nari di atas kehormatan keluarga. Namun, cinta sejati tidak mengenal barikade hukum manusia.
Di pinggiran desa, di bawah bayang-bayang pohon kurma yang meranggas, Majnun mengendus kehadiran sang kekasih lewat angin malam. Tubuhnya yang kurus kering merayap, menyusup di antara kerumunan tamu bagaikan bayang-bayang hantu.
Saat berhasil menginjakkan kaki di batas pelataran, matanya menangkap sepotong pemandangan yang seketika menghentikan aliran darahnya. Di sana, di balik sekat kain yang bergoyang ditiup angin, Laila berdiri memegang sendok besar, membagikan makanan kepada barisan panjang warga desa yang mengular dengan tertib.
Melihat jemari Laila yang menyentuh pinggiran piring-piring tanah liat, Majnun kehilangan seluruh rasa malunya. Ia tidak lagi peduli pada tatapan sinis atau bisik-bisik menghina. Baginya, antrean panjang itu bukanlah jalur mengemis makanan, melainkan titian jembatan menuju perjumpaan suci.
Maka, dengan pakaiannya yang koyak-koyak dan rambut yang penuh debu gurun, Majnun menyelinap masuk ke dalam barisan. Ia ikut mengantre, melangkah setapak demi setapak dengan dada yang bergemuruh. Setiap kali langkahnya maju, jarak di antara kedua pasang mata itu memendek, dan detak jantung Majnun kian tak karuan.
Detik-detik berlalu laksana abad yang merayap. Hingga akhirnya, tibalah giliran itu. Majnun berdiri tepat di hadapan Laila. Matanya menatap lurus, mencari kedalaman telaga di manik mata sang kekasih. Ia menyodorkan piring tanah liat yang kosong dengan tangan yang sedikit bergetar.
Udara di sekitar seketika terasa membeku. Semua mata yang mengenali Majnun mulai tertuju pada titik tersebut, menanti drama apa yang akan terjadi jika seorang gila mengemis pada putri sang kepala suku.
Laila menatap wajah Qais yang pias. Namun, alih-alih meraup kuah hangat dan menyendokkan daging ke atas wadah yang disodorkan, tangan Laila bergerak di luar nalar siapa pun. Dengan satu gerakan cepat, dingin, dan tegas, ia mengangkat piring dari tangan Majnun, lalu menghempasnya keras-keras ke atas lantai batu.
PRANK! Tembikar tanah liat itu hancur berkeping-keping di depan kaki Majnun. Makanan tidak pernah berpindah, yang ada hanyalah puing-puing tanah kering yang berserakan bersama keheningan yang mencekam.
Suasana mendadak senyap, sebelum akhirnya pecah oleh tawa kepuasan dari sudut-sudut pelataran. Keluarga Laila tersenyum lega; para tetua mengangguk puas. Bagi mereka, tindakan brutal Laila adalah proklamasi ketegasan: bahwa sang putri telah sembuh dari delusi cintanya, bahwa Laila secara terbuka telah mempermalukan dan mengusir si gila yang mengganggu kehormatannya. Penghinaan itu begitu sempurna, kasat mata, dan tak terbantahkan.
Namun, keajaiban justru lahir dari wajah Majnun. Ia tidak menangis. Ia tidak lari dengan raungan terluka. Sebaliknya, kedua sudut bibirnya perlahan terangkat. Sebuah senyuman yang teramat tulus—bahkan cenderung sangat bahagia—merekah di wajahnya yang kusam. Matanya berbinar menatap serpihan tembikar di bawah kakinya, seolah-olah pecahan itu adalah taburan permata paling berharga di muka bumi.
Melihat anomali psikologis tersebut, seorang sahabat yang menyusup bersamanya menarik lengan Majnun ke luar dari kerumunan dengan dahi berkerut heran.
"Qais, demi langit yang menaungi kita, mengapa engkau justru tersenyum? Tidakkah engkau punya sisa harga diri? Perempuan itu baru saja menghempaskan piringmu dan mempermalukanmu secara keji di hadapan seluruh penduduk kabilah!" bisiknya setengah membentak.
Majnun menatap sahabatnya dengan pandangan mata yang jernih, sejenis kejernihan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang telah melampaui batas logika awam.
"Kapan aku dipermalukan?" tanyanya lembut, nyaris tak kentara.
"Tadi! Ketika Laila menghancurkan wadah makananmu dan membiarkanmu pulang dengan tangan hampa!"
Majnun terkekeh pelan, kepalanya menggeleng tipis. "Engkau melihatnya dengan mata kepala, sahabatku, tetapi tidak dengan mata hati. Engkau salah paham. Pikirkanlah dengan jernih: jika Laila mengisikan makanan ke piringku, apa yang akan terjadi? Aku akan menerima makanan itu, berbalik arah, lalu pergi meninggalkan pelataran ini untuk memakannya di sudut yang sepi. Pertemuan kami selesai seketika."
Ia berhenti sejenak, memandang kembali ke arah pelataran di mana Laila masih berdiri.
"Namun, dengan memecahkan piringku, Laila sedang mengirimkan pesan rahasia yang hanya bisa dibaca oleh rindu yang sama besar. Dia menghancurkan piringku dengan satu tujuan: agar aku keluar dari barisan, mencari piring yang baru, dan kembali masuk ke dalam antrean. Dia ingin aku mengantre lagi. Dia ingin kami bertemu lagi. Dengan cara itulah, kami bisa berlama-lama saling memandang, bertukar tatap di balik riuhnya dunia, dan mengobati dahaga rindu yang membakar dada kami. Bagiku, hempasan piring itu adalah undangan cinta paling megah."
Sebuah jawaban yang meruntuhkan segala tembok logika formal. Sebuah tafsir yang hanya bisa diproduksi oleh hati yang telah terbakar habis oleh api asmara, meninggalkan abu ego yang tak lagi menyisakan ruang untuk rasa tersinggung.Kisah alegoris yang disarikan dari manuskrip abadi Nizami Ganjavi dan diulas mendalam oleh Dr. Fahruddin Faiz ini sejatinya bukanlah sekadar dongeng romansa Timur Tengah purba. Ini adalah sebuah cermin metafisika, sebuah sindiran tajam bagi spiritualitas kita yang rapuh. Kita, sebagai manusia, sering kali berperilaku persis seperti para penonton pesta di pelataran rumah Laila: menilai segala sesuatu hanya dari kulit luar yang tampak kasar.
Ketika badai kehidupan datang bertubi-tubi, ketika rencana yang kita susun rapi hancur berantakan laksana tembikar tanah liat, kita dengan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa Tuhan sedang membenci kita. Kita merasa dipermalukan oleh takdir, dikucilkan dari perjamuan kebahagiaan universal, dan ditinggalkan dalam kondisi nestapa yang hampa.
Namun, lewat kacamata kaum arif dan para sufi, Q = f(C)—di mana kualitas pemahaman berbanding lurus dengan kedalaman cinta. Boleh jadi, rentetan kesulitan, kegagalan yang berulang, serta doa-doa yang tampaknya menggantung tanpa jawaban di langit malam adalah cara Tuhan "memecahkan piring" kehidupan kita.
Tuhan sengaja tidak segera memberi apa yang kita minta, bukan karena Dia pelit, bukan pula karena Dia murka. Tuhan hanya rindu pada rintihanmu di sepertiga malam. Dia bahagia melihat hamba-Nya datang dengan tangan bergetar, bersimpuh penuh iba, mengaku lemah di hadapan altar kekuasaan-Nya.
Jika urusanmu langsung selesai dalam sekali doa, engkau akan segera berbalik badan dan melupakan Sajadahmu. Tuhan ingin engkau kembali mengantre. Tuhan ingin berlama-lama bersamamu dalam dialog intim yang sunyi.
Maka, dekaplah setiap takdir dengan rasa cinta yang murni. Ketika ego telah lebur, tidak ada lagi ruang untuk mengeluh, tidak ada lagi celah untuk putus asa. Di balik setiap kesulitan yang menghimpit, selalu ada sekat rahasia yang sengaja dibuka agar kita bisa memandang-Nya lebih lama.
Jangan dulu berburuk sangka pada remuknya piring takdirmu, sebab di dalam serpihan itulah, sering kali letak rindu Sang Pencipta disembunyikan.