Berbicara tentang sabar dan menjalani kesabaran, itu adalah dua hal yang berbeda.
Siapa pun boleh berkata, “Bersabarlah dengan kesabaran yang
indah!”
Namun terkadang, kita gagal meraih kata indah setelah
kesabaran. Kita lebih sering menempatkan amarah, bahkan sebelum kesabaran itu
diucap. Meninggikan suara, melotot, berkata kasar, menyalahkan, adalah gambaran
bahwa diri tak lebih tangguh dari percikan embun di atas batu.
Kamu tahu kenapa? Sebab sekeras apa pun batu, tetesan embun
saban pagi selalu berhasil meninggalkan lubang di atasnya.
Sabar tidak hanya tentang menahan diri dari ambisi besar,
sabar juga berarti kamu membaca tulisan ini, satu per satu, hingga selesai.
Sehingga kamu menemukan sudut pandang baru, bahwa sabar
bermula dari melakukan kebaikan kecil terus-menerus dengan senyuman, meski
melelahkan.