
Belajarlah dari hari ini. Merasalah menjadi bodoh, ketika
tak mampu menahan letupan amarah di hadapan manusia. Merasa salah menjadi tak
berguna, ketika mengeraskan suara sambil melotot lebar-lebar. Menyesallah sebab
tak mampu menata kata, menahan panas di dada.
Benarlah sabda Nabi, “Orang yang kuat bukanlah ia yang
pandai bergulat, sungguh orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya
ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun, jangan putus asa. Kuingatkan sekali lagi, jangan
putus asa. Tak ada manusia yang sempurna. Musa pun tak mampu bersabar
menghadapi tiga peristiwa yang diajarkan Khidir dalam perjalanannya. Apalagi
kamu? Siapa kamu?
Berkecukupan, tak mau berbagi. Bersalah, enggan mengakui.
Terus meminta, tak pernah memberi. Jangan sekali-kali menganggap diri suci.
Menyesallah, yang darinya kamu tak akan mengulangi kesalahan
yang sama. Menangislah, yang dengannya akan meluruhkan egomu. Awalilah maaf,
walau tak bersalah, apalagi yang memulai amarah.
Renungkanlah semua yang terjadi hari ini. Meski berat, meski
terjal, meski sesak, tersenyumlah dalam diam, kemudian resapi. Hingga “sabar”
menjadi kata terindah yang kamu dengar hari ini.