Aku tertegun. Berpikir sejenak, sembari memperhatikan awan
sirus yang mondar-mandir didorong angin.
Mencoba memilih diksi paling tepat untuk menjawab pertanyaan yang terdengar
sederhana, tetapi membutuhkan
ribuan filosofi untuk menjelaskannya, juga secara sederhana.
Awan itu terdiam. Seketika membuat bentuk yang tak teratur,
awan stratus.
Aku menoleh ke arahnya dan berkata singkat, “Sabar dan
ikhlas.”
Ia menatapku lama. Mencoba mengartikan frasa itu.
“Coba lihat awan itu,” ia menuruti petunjukku. “Kamu tahu
proses terjadinya hujan?”
“Sedikit,” jawabnya ragu-ragu.
“Ikhlas, ikhlas itu seperti air. Apakah ia mengalir dari
hilir ke hulu? Apakah ia mengeluh karena dirinya
terasa asin ketika sampai di laut? Apakah ia membeku ketika terkena panas?”
Ia mengernyitkan dahinya.
“Jawabannya, tidak. Seberapa tinggi dan terjalnya bukit yang
ia lalui, ia tetap mengalir ke bawah. Seberapa
luasnya lautan yang ia selami, ia tak pernah mengeluh. Ia juga tak pernah mempertanyakan mengapa dirinya berasa
asin. Sebab ia tahu, ikan di laut takkan mampu bertahan di air tawar. Dan seberapa terik dan panasnya sinar matahari
yang menyengat, ia terima, karena ia tahu,
dari situlah awal mula awan terbentuk.”
“Sabar itu ibarat awan. Sekumpulan uap air bergabung menjadi
awan, kemudian bergabung dengan kumpulan
awan lainnya, sehingga membuat massa awan semakin berat, berat, dan bertambah berat. Hingga satu titik, ketika awan
tak mampu menampung uap air, ia akan melepasnya ke hamparan bumi, sehingga turunlah hujan.”
“Begitu juga manusia, ketika ia menanggung beban berat di
hidupnya, ia akan mulai menangis. Ia tahu,
Tuhanlah tempat mengadu. Dan awan pun tahu, ketika ia melepaskan rintik-rintik
air, bukan berarti ia berhenti
bersabar. Ia sadar bahwa tumbuhan, hewan, dan manusia sedang merindunya untuk membasahkan dahaga mereka.”
Ia mengangguk takzim tanda mengerti.
Aku menanyakan satu hal sederhana padanya, “Ikhlaskah kau
mencintaiku?”
“Tentu.”
“Maka bersabarlah,” pintaku.
Kemudian, ia mengangguk dan tersenyum.