Semakin berjalan lebih jauh, kita akan semakin menyadari bahwa masalah manusia itu berputar dengan masalah yang sama.
Seorang anak yang mempunyai hubungan tidak harmonis dengan orang tuanya, seorang gadis yang tengah resah karena di usianya yang semakin bertambah jodohnya tak kunjung datang, mahasiswa yang kesulitan menyelesaikan studinya, sarjana muda yang belum juga mendapat panggilan kerja, sepasang suami-istri yang menikah bertahun-tahun namun belum juga dikarunia anak, seorang istri yang baru tahu tabiat buruk suami setelah mereka menikah, orang tua yang hidup sendiri dan tak lagi dipedulikan oleh anak-anaknya. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Sama. Riuh itu terdengar sama. Hanya saja kita sering kali menganggap kita adalah orang paling menderita di dunia. Sebab, kita terlalu lama hidup dalam ruang bergema yang kita cipta sendiri. Jika kita tak segera memasang peredam, riuh itu akan terus membentur, bahkan membesar.
Lalu apa inti dari semua ini?
"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau ... " (QS. Al-Hadid 57: 20)
Dan pada akhirnya seseorang hanya butuh tempat bercerita. Sebab, semua orang ingin didengarkan. Sayangnya, tidak semua orang bisa mengungkapkan. Maka, izinkan aku yang berbicara ... dalam bentuk kata-kata. Memang, aku tidak menjamin orang lain akan mengerti. Namun, itu jauh lebih baik dibanding tak ada seorang pun yang berani memulai, kan?
Jika aku tak mampu lagi menjelaskannya secara sederhana, dan tidak seorang pun yang mendengarkan dan mengerti, maka, selalu ingat bahwa Allahﷻ-lah sebaik-baik pendengar setia. Kita saja yang sering kali lupa, untuk berterus terang pada-Nya.
Bukankah begitu?
