Beberapa orang cukup beruntung mempunyai tempat bercerita, beberapa lainnya tidak. Mereka yang tidak, berpikir, bahwa dunia hanyalah kumpulan angka yang tugasnya bertambah atau berkurang tanpa ada alur cerita yang menyertainya.
Beberapa orang cukup beruntung begitu mudahnya mengungkapkan perasaannya, beberapa lainnya tidak. Mereka yang tidak, berpikir, bahwa perasaan manusia adalah benda yang harus dijaga, tak boleh disentuh dan tak patut diketahui siapa pun. Senang, sedih, kecewa, dan bahagia adalah rahasia. Tanpa mereka sadari, cara mereka menyembunyikan perasaan itu untuk diri mereka sendiri justru membuat perasaan itu membusuk dan melukai dirinya sendiri.
Beberapa orang cukup beruntung tumbuh dalam keluarga yang harmonis dan penuh kehangatan, beberapa lainnya tidak. Mereka yang tidak, berpikir, bahwa keluarga hanyalah kumpulan orang-orang yang dipersatukan di bawah Kartu Keluarga. Selebihnya, hidup untuk diri sendiri tanpa saling sapa, tanpa saling tanya. Anak-anak mereka tak pernah diarahkan, bagaimana seharusnya memilih tokoh idola, bagaimana memulai perbincangan sederhana, bagaimana menumbuhkan kepedulian, bahkan, mereka dilarang untuk bermimpi dan bercita-cita. Anak-anak itu dipaksa tumbuh dan menemukan jati diri tanpa bantuan siapa pun. Barangkali, termasuk dirimu?
Lebih dari itu semua, beberapa orang sangat beruntung menjadi bagian dari "Orang orang yang percaya", sedang beberapa lainnya tidak. Di saat mereka punya kesempatan dan "katanya" punya akal untuk menjunjung tinggi paham kebebasan, mereka justru menyerahkan diri dalam ketundukan dan kepatuhan pada Tuhan, Pencipta Semesta.
