Malam itu, di atas sebuah kereta menuju Stasiun Pasar Turi, Surabaya, aku meluncur deras di atasnya; menimbang-nimbang keputusan yang akan menentukan arah hidupku selama-lamanya: menentukan pasangan hidup. Dua hari lamanya aku menyusun kata per kata dari sebuah surat berjumlah dua halaman yang kutujukan untuk seorang yang kukenal di dunia maya.
Assalamu’alaikum, Haifa.
"Aku harap surat ini tidak mengejutkan Haifa. Aku tidak tahu kenapa aku menulis ini, dan juga tidak tahu, kenapa sampai di sini. Yang pasti, ada dorongan dalam diri, keberanian, dan keyakinan yang membuatku melakukan ini.
Ingat, suatu hari menemukan akun Haifa berkolaborasi dengan penerbit Republika. Mampir, dan saat kulihat-lihat feed-mu, ada banyak hal yang membuatku kagum: Cara Haifa menyusun kata-kata, entah mengapa terasa tidak asing, begitu dekat.
Pula, cara Haifa memperjuangkan apa yang disuka, memperjuangkan mimpi dan cita-cita Haifa. Serta, cara Haifa berbicara, cara Haifa berpakaian, cara Haifa mencintai teman-teman dan keluarga; kakak, adik, ibu, dan ayah, sudah cukup membuatku mafhum bagaimana mereka mencintai Haifa dan sebaliknya, serta bagaimana Haifa dibesarkan dengan penuh cinta.
Maaf, jika terlalu berlebihan. Tapi ini, benar-benar apa yang kurasakan.
Mungkin sedikit kupersingkat, di usiaku yang sekarang, aku merasa perlu seseorang yang punya mimpi yang sama seperti yang aku perjuangan, seseorang yang punya percaya yang sama seperti yang aku yakini, seseorang yang punya cara pandang yang sama dalam memandang kehidupan, tentu berlandas agama yang syar’i.
Dan padamu, dengan pandangan mataku yang terbatas, aku rasa tidak harus mengubah banyak tentang sosok yang kugambarkan selama ini. Haifa, cukup menjadi diri sendiri.
Banyak liku dan uji yang kutempuh sejauh ini, banyak sabar yang kutunggu hingga mekar, banyak ikhlas yang hampir terlepas, dan saat aku menemukan seseorang yang kukira tepat, aku tidak mau melewatkan. Dan media sosial, membantuku untuk menavigasi semua ini.
Oleh karena itu, izinkan aku menyampaikan CV-ku, untuk Haifa baca. Ini adalah ikhtiar untuk hal yang insyaAllah baik. Dan kabari, jika caraku mengirim pesan ini, ternyata tidak baik.
Aku harap, Haifa merespon pesanku ini—apa pun jawabannya. Jika Haifa memberi kesempatan, izinkan aku juga mendapat CV Haifa, untukku baca. Agar aku bisa menimbang. Jika harus menunggu, kabari berapa lama aku harus menunggu.
Jika memilih tidak memberi kesempatan dan mencukupkan sampai di sini, tak apa, dunia tetap berputar, dan kita, masih punya mimpi masing-masing untuk kita gapai.
Pengirim pesan ini, Isma’ul Ahmad.
Wassalamu’alaikum warahtullahi wabarakatuh."
Surat sudah tertata rapi. Kata demi kata telah kususun sedemikian rupa. Aku menjelma menjadi seorang jenderal perang yang mempersiapkan ribuan prajurit untuk bertempur di medan laga, dengan pedang, dengan busur, dengan panah, dengan kuda-kudanya. Kupersiapkan hatiku pula untuk menulis sebuah pengantar singkat.
Dan sekadar untuk menekan tombol "kirim" pada layar gawai yang bersinar terang, keringat bercucuran, tangan gemetar, dan dada terasa berdetak lebih deras dari biasanya. Satu gerakan, satu sentuhan yang akan mengubah arah hidupku selama-lamanya. Namun, apalah daya, satu gerakan itu, seperti aku dipaksa mendorong agung tembok yang menjulang tinggi.
Jika cinta adalah sebuah perjalanan, maka aku telah banyak melalui panjang perjalanan itu. Berputar-putar, melalui batu dan kerikil, tersesat dalam rimba hutan hujan, mendaki gunung yang membuat napas sesak, hingga tertahan di depan pintu yang dipaksa ditutup; sebab kata pemilik pintu, ruangan telah penuh, tidak cukup menampungku dan segala pengharapan yang nampaknya terlampau besar.
Begitulah cinta terasa asing dan membingungkan. Padahal ia dekat, tapi begitu sulit direngkuh. Padahal ia ada, tapi tak semua orang mampu melihatnya. Maka cinta, hanya ditujukan untuk orang-orang yang telah dirasa layak, yang akan dipilih untuk menjaganya.
Pada ujung pesan itu, kuklik tombol kirim.
Terkirim.
Lalu, kumatikan gawai dan membiarkan layarnya menggelap, begitu pun aku, segera memejamkan mata dan menudungi wajah dengan sekain selimut yang telah separuhnya menutupi tubuhku. Kupejamkan mata, agar terasa reda degupan yang kini, kian terasa.
Malam di sebalik jendela gelap, tapi lampu-lampu jalanan dan perumahan di ujung jauh sana seperti berkejar-kejaran meraih kereta, menandakan bahwa kereta ini tak menurunkan kecepatannya. Terus melaju. Tapi, aku tak memilih melanjutkan malamku. Aku, memilih untuk terlelap, dengan puluhan pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepala: tentang benar-tidaknya apa yang telah kuperbuat, tentang kecerobohan apa yang baru saja kulakukan, tentang benarkan satu langkah kecil ini akan mengubah arah hidup selama-selamanya.
Entah apa pun itu, aku menunggu jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan ini, keesokan paginya.
