Ketika Sang Putri Ketika Sang Putri Jatuh Cinta

BRAKK!! Gebrak pintu dibanting terdengar hingga ujung jalan.

Putri masuk ke kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. Tubuhnya bersandar di pintu, memeluk dirinya sendiri. Air mata berjatuhan membasahi gaun putihnya. Dari pantulan cermin di sudut kamar, rupa eloknya sekejap berganti menjadi reruntuhan. Dadanya naik turun menahan sesak. Sesenggukan. Ayahnya telah menghancurkan rencananya, melenyapkan kesempatan yang boleh jadi tidak datang dua kali; kesempatan seorang gadis biasa dicintai oleh pemuda idaman sepenjuru sekolah, telah memupus mimpi seorang putri yang tengah jatuh cinta untuk dicintai juga oleh sang pangeran pujaannya.

“Buka pintunya, Putri.” Suara Sobari menembus celah pintu, diiringi ketukan yang makin lama makin keras. Namun, Putri abai, ia tak memedulikan ayahnya. Ponsel Putri bergetar kembali. Sebuah notifikasi muncul.

“Putri, buka pintunya!” suara ayahnya terdengar lagi.

Putri kian kuat menempelkan punggungnya pada pintu, tidak ingin pintu itu terbuka. Kedua tangannya erat memeluk lutut. Air matanya berjatuhan, meski tanpa suara. Sesak. Di balik pintu, ayahnya terus mengetuk. Makin keras ketuk pintu itu, suaranya menembus kepala Putri, menimbulkan kebisingan yang membuat kepalanya penuh dan pening. “Putri ....”

“Cukup! Diam! Jangan ganggu aku lagi!” Emosi Putri meluap. Teriakannya membuat ketukan itu terhenti. Seketika menjadi sunyi. Tak lagi terdengar suara Sobari memanggil manggil namanya. Senyap. Putri semakin menjadi, “Ayah pernah muda?! Tahu apa ayah soal cinta?!”

Tak ada jawaban apa pun dari balik pintu.

“Urus saja ibu dan ajari ibu soal cinta! Agar ibu tidak terus membangkang pada ayah! Biar ayah mampu menegakkan harga diri sebagaimana seharusnya seorang laki-laki!” teriakan itu memenuhi seisi rumah. Menancap keras ke kepala Sobari, menusuk dadanya.

Lantas, sore itu, seisi rumah menjadi sunyi. Senyap.

***********************************************************************************

Sejak sedari siang hari itu, Putri mengira malam ini akan istimewa. Ada janji yang harus ia tepati. Sebuah jamuan makan malam, dua anak remaja yang sedang dilanda cinta. Hanya berdua. Putri meyakinkan dirinya sendiri, bahwa perasaan berbunga bunga yang kini sedang ia rasakan sekarang bukan sekadar akibat dari badai hormon yang tengah terjadi di otaknya, melainkan murni perasaan yang timbul dari lubuk terdalam hatinya.

Putri berdiri di depan cermin, mematut diri, mengamati penampilannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sedari tadi ia sibuk memilih kombinasi baju dan rok mana kiranya yang paling pantas untuk dikenakan. Tidak banyak pilihannya, hanya tiga setel baju dan tiga setel rok, tapi itu berhasil membuat Putri berbolak-balik, memasangkan satu sama lain. Jika menggunakan prinsip kombinasi dalam matematika, ada sembilan cara bagi Putri untuk menentukan pilihannya tersebut. Satu jam berlalu. Dari kesembilan kombinasi tersebut, ternyata tidak ada satu pun yang ia pilih. Justru, ia kini mengenakan gaun putih panjang yang telah lama tidak ia pakai. Begitulah cinta terasa membingungkan.

Putri masih mematut diri di depan cermin, ragu, tangannya menyibak perlahan rambut hitamnya yang bergelombang. Angin lembut dari kipas angin membuat rambutnya tergerai gerai anggun. Ia memandangi dirinya sendiri, matanya jeli melihat setiap detail wajahnya. Setelah beberapa saat merapikan rambutnya, Putri sekali lagi menatap ke arah cermin, berputar putar menemukan pantulan cermin diri terbaik, lalu berujar dalam hati, Cantik, kan? Ia mengangguk tersenyum sumringah, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia layak dicintai.

Ponsel di atas mejanya bergetar, bersamaan sebuah notifikasi yang muncul.

Malik Udah siap? Aku di depan Type a message Siaap Putri terkesiap. Ia bercermin sekali lagi, mengoleskan lipstik satin untuk olesan yang terakhir, memastikan bibirnya tetap lembap dan tidak kering, memastikan bajunya telah rapi dan tidak ada lipatan sedikit pun. Sempurna. Ia berbalik, meraih tas di atas kasur, lalu bergegas menuju pintu.

Betapa cinta telah mengubah figur sederhana, menjadi figur yang ingin dipuji karena molek penampilannya. Betapa cinta telah mengubah gadis pendiam, menjadi gadis yang suka sekali bercerita sebab telah menemukan telinga yang bersedia mendengar. Betapa cinta telah menyirami hati yang telah lama kering, menjadi satu taman luas yang dipenuhi bunga-bunga. Putri tak pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya. Tak pernah merasakan perasaan seindah ini sebelumnya. Begini ternyata rasanya dicintai, seolah-olah segala sesuatunya telah cukup. Putri berjalan menuju pintu, kakinya berjinjit-jinjit, senyumnya seolah enggan terlepas, jantungnya berdebar, penuh bunga.

Akan tetapi, dalam sekejap, perasaan berbunga-bunga itu hancur ketika terdengar suara hardikan di luar rumah. Langkahnya terhenti.

“PERGI!”

Putri tertahan di ujung pintu. Ia melihat ayahnya di luar mengacung-acungkan tangan mengusir sebuah mobil yang kemudian pergi menjauh, menyisakan asap dan suara deru mesin.

Putri berlari hendak mengejar mobil itu. Namun, ayahnya menahannya. Betapa dada Sobari dipenuhi gumpalan amarah tatkala melihat putrinya melepaskan kerudung untuk pertama kalinya sejak akil baligh dan mengenakan pakaian yang sama sekali berbeda dari biasanya. Tangan Sobari kian kuat mencengkeram Putri dan memaksanya masuk ke dalam rumah.

“Lepas! Lepas!” Putri berontak sekuat tenaga. Akan tetapi, Sobari enggan melepasnya, kukuh bergeming. Ia justru semakin kuat mencengkeram lengan Putri yang akhirnya tak berdaya melawan ayahnya. Matanya sembap, air matanya tertahan, dadanya panas menerima perlakuan Sobari. Putri lantas berbalik, melemparkan tasnya ke wajah Sobari yang refleks menghalau tas tersebut, terkejut. Cengkeramannya terlepas. Putri memberontak, ia berlari ke dalam rumah. Masuk ke kamarnya, dibantingnya pintu keras-keras. Menangis.

***********************************************************************************

Di saat jembatan yang menghubungkan Putri dengan ibunya telah rapuh, Putri justru menghancurkan jembatan penghubung yang selama ini tersusun rapi, yang mempersatukan antara dirinya dengan ayahnya. Bagi Putri, sikap keras dan abai ibunya, sikap ketat ayahnya yang ia anggap sebagai pengekangan atas masa remajanya yang seharusnya bebas dan merdeka, mengakibatkan resonansi dahsyat yang berkesinambungan dengan keinginannya untuk berdaulat atas dirinya sendiri.

Sore ini, osilasi itu telah mencapai amplitudo maksimumnya, menyebabkan getaran pada gelagar utamanya. Gelagar itu bergetar hebat, membuat rasa-rasanya sulit dipercaya, bahwa gelagar yang terbuat dari baja sekali pun, yang dikira akan mampu menahan beban seberat apa pun, pada akhirnya menyerah dan tumbang juga. Gelagar itu, ialah hati Putri.

Pun, jembatan yang menghubungkan hati dan ayahnya hari ini runtuh. Jembatan yang menumbuhkan rasa saling mengasihi, saling peduli, dan saling melindungi antara ayah dan anak perempuannya. Tentu, akan sulit untuk menyambung dan membangun kembali jembatan penghubung itu seperti sedia kala di saat pangkal dari jembatan itu telah retak.

Setelah mendengar teriakan Putri yang begitu menancap di kepala dan menusuk dadanya, Sobari mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Apakah kelembutannya tak cukup menumbuh kan anak perempuan yang lembut pula? Apakah benar keingin annya menjaga adalah bentuk pengekangan yang tak pernah ia sadari selama ini? Apakah benar sikap mengalahnya selama ini telah membuat harga dirinya jatuh sebagai seorang suami? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di kepala, membuat da danya sesak. 

Pikiran Sobari melayang-layang, kembali jauh pada suatu petang beberapa tahun silam.

***********************************************************************************

Suara adzan maghrib berkumandang, memecah keheningan sore di kampung itu. Sobari duduk tenang di ruang tengah rumah, matanya lembut memandang putri kecilnya yang tengah duduk dan menjatuhkan tubuhnya sebagian di atas meja di hadapan Sobari, jari-jemari Putri sibuk memilah-milah pensil warna, mulutnya ceriwis menyebutkan satu per satu warna yang ia pegang. Di dekatnya, tergantung sebuah kerudung yang Sobari ambil dan letakkan di atas meja.

“Waktunya shalat, Putri,” ucap Sobari lembut, kerudung itu sudah ada di tangannya. “Sini, Ayah ajarin cara pakainya.”

Putri menatap Sobari dengan penuh rasa ingin tahu, lalu mengangguk. Ia memperhatikan dengan saksama apa yang ayahnya lakukan. Dengan lembut, Sobari mengambil ujung kerudung dan meletakkannya di atas kepala Putri, memastikan kerudung tersebut menutupi rambutnya dengan sempurna. Sobari kemudian merapikan sisi-sisi kerudungnya, menjadikannya tampak rapi dan cantik.

“Nah, kamu cantik sekali kalo pake kerudung.” Sobari tersenyum memandang putrinya. Wajah Putri berseri-seri, bahagia mendengar pujian ayahnya.

Sobari menatap putrinya, matanya penuh kasih dan kehangatan. Digenggamnya erat tangan Putri, seperti melindungi dari segala hal yang mungkin terjadi. Mereka saling tersenyum, merasakan kebersamaan yang mengalir di antara mereka. Sampai akhirnya, dengan langkah yang penuh ketenangan, mereka berdua melangkah masuk ke dalam surau menunaikan kewajiban menutup hari yang indah.

***********************************************************************************

Sobari tumbang. Ia mendudukkan dirinya sendiri di sebuah kursi dekat dinding. Ia tak percaya, kata-kata itu keluar dari mulut anak perempuan semata wayangnya, anak perempuan yang sangat ia cintai, anak perempuan yang ia ajarkan bagaimana bertutur kata dengan lembut, dengan halus. Sobari memegangi kepalanya, pening. Sebuah kain putih tipis terlepas dari genggamannya, jatuh perlahan ke bawah, tergeletak di atas lantai: kain kerudung SMA Putri. Berat sekali. Sobari merasa telah gagal sebagai seorang ayah, dan dipecundangi habis-habisan sebagai seorang suami.

Sore itu, senja masih belum sepenuhnya pergi, lembayung merah masih menghias di ufuk barat, tapi bagi Sobari, tiba-tiba segala sesuatunya menjadi gelap.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak