Seperti biasa, seorang Tere Liye membawakan ceritanya dengan
bahasa yang lugas, sederhana, mudah dipahami dan ditambah kritikan-kritikannya
yang membangun. Menarik, buku ini secara tidak langsung berisi kegeraman Tere
Liye terhadap para pelaku pembajakan serta penikmat karya-karya bajakan. Di
tengah pembajakan yang semakin marak dan ketidaktegasan aparat yang berwenang
memberantas pembajakan, Tere Liye seolah ingin menyuarakan suara hati penulis
serta seniman dalam karya lain bahwasanya pembajakan dalam apa pun bentuknya
sangat merugikan pencipta karya, dan tentunya pelaku pembajakan tidak mendapat
berkah dari rezeki yang diperolehnya.
Buku ini menceritakan tentang Sintong Tinggal, seorang
mahasiswa tingkat akhir asal Sumatra yang berkuliah di Perguruan Tinggi ternama
di Indonesia yang tak kunjung menyelesaikan skripsinya. Di tengah upayanya
menyelesaikan skripsi, Sintong Tinggal bertemu dengan seorang gadis. Di situlah
ia harus memilih untuk menaruh hati pada gadis itu atau tetap teguh pada cinta
pertamanya. Ingin tahu kelanjutannya? Layak diikuti.
